Friday, October 18, 2019

SEKOLAH LAGI

Setelah setahun bekerja di RS Panti Nirmala, akhirnya memutuskan untuk mendaftar sekolah spesialis. Sedih karena harus resign supaya bisa fokus persiapan. Mulai dari les TPA, les TOEFL dan nyiapin berkas yang diperlukan.
Gak lupa melengkapi syarat-syarat khusus untuk prodi Patologi Klinik.


Sempat mengira kalo syarat TOEFL itu nanti waktu tes TOEFL berarti nilainya minimal harus 450, udah santai-santai ternyata maksudnya adalah sudah pernah mengikuti tes TOEFL dan dapet nilai minimal 450 untuk disertakan dalam berkas. Wah kelimpungan karena belum pernah tes, sedangkan batas waktu pengumpulan berkas adalah 2 hari lagi. Akhirnya coba menghubungi English First dengan harapan bisa tes sewaktu-waktu dan katanya bisa! Tapi hanya TOEFL Prediction. Yaudah lah ya, diikuti aja. Puji Tuhan nilainya lebih dari 450. Karena masih gak yakin, akhirnya ikut lagi TOEFL equivalent test di lembaga bahasa UB. Takutnya kalo-kalo yg nilai dari EF itu gak valid, seenggaknya udah siap cadangannya. Untungnya diterima-diterima aja, sampai hari briefing dan pengumpulan berkas juga aman-aman aja.

Lanjut ke psikotest, menurutku gak susah tapi gak boleh disepelekan. Tes TOEFL yaa lumayan lah ya, ada untungnya les dan ikut 2 kali tes sebelumnya. Nah, tes TPA ini yang ya ampun susahnyaaaa. Gak nyampe otakku buat mikir, jadi ya akhirnya kumaksilkan di topik yang aku merasa bisa. Lainnya? Pasrah.

Di hari pengumuman untuk ke tahap berikutnya aku ditemenin Agnes di rumah. Kami berdua sama-sama gak tenang. Dari jam 12 siang sudah bolak-balik refresh web page ppds UB. Akhirnya pengumuman muncul sekitar jam 5 sore menjelang maghrib. Waaaah senang banget sampe pelukan sama Agnes saking girangnya! Hari itu ditutup dengan gofood Keetjie dan makan bareng sama Agnes plus Billy yang menyusul ke rumah.

Malam itu mulai deg-deg an lagi karena ujian teori dan wawancara akan dilaksanakan 3 hari lagi, di hari yang sama! Menurut info dari beberapa senior, untuk tes wawancara hanya akan ditanya tentang kehidupan sosial. Gak ada menyangkut keilmuan. Jadi peernya adalah tes teori.
Sempat nyesel karena selama ini masih kurang belajar. Kebanyakan main, gegoleran dan jalan-jalan apalagi waktu ke Jakarta sebelum pengumuman itu. Penyesalan emang selalu muncul di akhir, kalo di awal namanya pendaftaran hehe hehehehehe

Senin, 30 September pagi berangkat ujian diantar mama. Mama yang bolak-balik Jakarta-Malang demi nemenin aku selama tahapan ujian. Ujian teori berjalan lancar walaupun ada beberapa soal yang aku ragu jawabannya. Ujian wawancara beneran cuma ditanya tentang sosial, tanpa nyenggol teori sama sekali. Ditanya hobinya apa, kujawab nyanyi dan berenang. Eh disuruh nyanyi! Bingung mau nyanyi apa akhirnya nyanyi reff Teman Hidup - Tulus. Cuma itu yang tiba-tiba terlintas di kepala.

Selesai semua rangkaian ujian, tinggal nunggu tanggal 11 Oktober untuk pengumuman final. Menyempatkan ke Puhsarang sama mama untuk doa di sana, beberapa hari setelahnya ke sana lagi sama Agnes dan Lucy. Kata mama, "Sudah diusahakan semaksimal mungkin, Tuhan tau yang terbaik untuk mbak Rani gimana. Jadi sekarang tinggal berdoa, pasrah aja."




Jumat, 11 Oktober 2019 jadi hari yang luar biasa mengharu biru. Puji Tuhan diterima jadi residen Patologi Klinik, periode Januari 2020. Hari itu denger mama telepon bilang, "Selamat ya mbak, mama senang, mama bangga sekali sama mbak Rani!"
Tuhan bekerja luar biasa.

Kalo bukan karena doa mama, doa banyak orang dan campur tangan Tuhan, gak mungkin bisa sampai di titik ini. Rasanya masih kayak mimpi.
Selamat sekolah lagi, Maharani!

Sunday, August 18, 2019

Jadi Orang Baik

Tiga tahun sejak postingan terakhirku.
Sekalinya nulis lagi, topiknya berat.

Hari ini memang direncanakan untuk ngopi bersama Cyn di salah satu gerai kopi ternama di daerah Araya. Cyn belajar topik jurusannya, aku pun latihan soal TPA. Sejam berselang, ada anak cowok kisaran umur 14-15 tahun duduk berjarak 1 kursi denganku. Badan sebelah kanannya banyak luka babras. Mulai dari wajah, lengan kanan, kaki kanan bahkan tangan kiri juga terdapat luka. Asumsiku? Mungkin habis jatuh dari motor. Dia kelihatan menahan sakit sambil ngeliatin layar hp nya yang retak-retak. Aku kirim whatsapp ke Cyn, intinya kami kasihan dan pengen nolong.

"Habis jatuh ta?"
"Iya"
"Jatuh di mana? Diserempet?"
"Iya mbak, diserempet mobil tapi kabur gak bertanggung jawab di situ", sambil menunjuk ke arah traffic light dekat gerai kopi
"Terus ini kamu sudah pesan?"
"Belum mbak, masih nunggu balasan"
Yang kemudian aku tau kalo dia kerja sebagai salah satu driver gojek.

Karena kasian, Cyn dan aku menawarkan untuk berobat di RS seberang tapi anak itu menolak. "Takut bayar lagi, mbak. Sudah ndak usah"
Sudah kami coba bujuk dan sampaikan bahwa dia nggak perlu khawatir terkait biayanya, tapi tetap menolak.
Akhirnya aku beli air minum, spray antiseptik, dan ointment untuk luka di supermarket sebelah. Sambil nitip Cyn kalo-kalo gak nutut dan si anak sudah pergi.
Eh benerrrr, pas sudah mau bayar di kasir, "Ran, anaknya pergiiii"
Yaaa kupikir ya sudah gak nutut, mau kukembalikan barang-barang yang sudah kuambil.
Cyn kirim chat lagi, "Eh gak jadi, dia masuk lagi"
Buru-buru kubayar barang-barang tadi, sampai uang kembaliannya kutinggal dulu daripada si anak pergi lagi.

"Sini yuk, tak bantu bersihkan lukanya."
Si anak nurut tak ajak ke toilet, tak bantu bersihkan lukanya sambil nahan sakit. Kasiaaan :''''(
Kucoba bersihkan sebisaku pakai air mengalir, semprot antiseptik lalu dioles ointment.

"Sudah pesan tadi? Banyak gak pesanannya?", maksutku kalau dia naik motor dan pesananannya lebih dari 4 gelas kan ribet juga bawanya. Mana sambil nahan sakit habis jatuh kan.
"Banyak mbak, sampai 80 ribu lebih"
Dari situ aku berasumsi kalau dia sudah pesan. Oke, berarti tinggal tunggu kan ya.
"Kamu sekolah?"
"Iya mbak"
"Sekolah di mana? Kelas berapa?"
"Di SMK 8, mbak. Kelas 1"

Beres rawat luka, balik duduk lah dia di kursi sebelahku. Aku balik ke supermarket mengambil uang kembalian, pas Cyn chat lagi,
"Raaaan, anaknya mimisaaaan! Gimana iniiii?"
Jadi teman-teman sekalian, kalau ada orang yang barusan jatuh apalagi kita curiga ada benturan kepala, maka ada beberapa hal yang perlu dicermati. Misalnya ada perdarahan dari hidung atau telinga kah, ada lebam di daerah mata kah, merasa pusing berkunang-kunang pandangan kabur kah, ada rasa ingin muntah atau bahkan sudah muntah kah, setelah jatuh sempat tidak sadar kah. Nah beberapa hal tersebut perlu kita amati atau tanyakan kepada orang tersebut, hal ini berkaitan dengan dugaan terjadinya cedera kepala ringan-sedang-maupun berat. Beda ceritanya kalau jatuh cinta ya :)

Balik ke gerai kopi, eh iya dia lagi ngusap hidungnya yang mimisan. Kuambilkan tisu sambil nanya, "Terasa pusing berkunang-kunang gak kamu? Pengen muntah?"
"Cuma agak pusing aja, mbak"
"Hmm pesananmu sudah?"
Diem dia gak njawab, masih ngusap hidungnya yang mimisan.

"Coba bapak ibumu dikabari, dek" kata Cyn.
"Nggak usah mbak, nanti aja"
"Sini nggakpapa aku bantu telponin kah?"
"Nggak mbak, nggakpapa nanti aja daripada khawatir"

Ya sudah aku dan Cyn mentok juga mau ngomong apa lagi.
Kurang lebih 10-15 menit kemudian dia pamit pergi duluan.
Kubilang untuk bawa air minum dan lainnya yang kubelikan tadi supaya dia bisa pakai untuk obati luka di rumah nanti.

Begitu dia sudah pergi, Cyn baru cerita kalau daritadi dia belum ke konter untuk pesan.
Aku pikir juga kok lama banget nama/pesanan dia nggak dipanggil-panggil. Apa mungkin pelanggannya membatalkan pesanan karena dia terlalu lama atau gimana, ya kami nggak tau sih.
Tapi beneran kasian. Masih kecil, sudah berusaha bekerja, eh kok ya dapet musibah :(

Mengesampingkan siapa yang salah saat kejadian di traffic light -- entah dia yang motong jalan saat belok atau gimana-- tapi kalau memang ada yang jatuh, coba tolong dibantu selagi mampu.

Inti ceritaku hari ini adalah, kalo di sekitar kalian ada mereka yang membutuhkan bantuan maka nggak ada salahnya untuk membantu. Nggak ada salahnya jadi orang baik di dunia yang sudah cukup kejam ini (menurutku hehe).
Apalagi kalau kalian mampu. Mampu di sini nggak melulu soal materi ya, tapi juga mampu atau ada kesempatan untuk membantu. Ayo lebih peka ke sekitar kita :)

Sumber Gambar : IG @nkcthi

Saturday, September 24, 2016

LULUUUUUUUUSSSSSSSSSSS

Jadi kemarin ada info dari grup nasional kalo pengumuman tgl 24 September jam 00.00. Kalang kabutnya luar biasa. To be honest, beberapa hari sebelum ini aku sempat nangis-nangis minta maaf ke temen-temen, pacar dan orangtua kalo-kalo ternyata aku gak lulus. Setakut itu soalnya ujian CBT ku kemarin cukup hancur lebur menurutku.
Permintaan maaf pun dijawab dengan baik oleh temen-temen, "Udah gakpapa Ran, kita semua doain yg terbaik. Semoga lulus bareng-bareng. Amin".
Dijawab bijaksana juga sama ayah mama, "Kami ngerti gimana mbak Rani berjuang dan sudah mengusahakan sebaik mungkin, kalo nanti Tuhan belum mengijinkan ya gakpapa belajar lagi berusaha lagi. Ndak boleh patah semangat.".
 Kalo pacar sih lebih ke gak terima gitu waktu aku minta maaf, "Kowe iku lho, gak usah ngomong sing aneh-aneh. Lek kedaden temenan piye? Wes ndungo o ae ojok mandeg".
Lain lagi sama Hega, "Feelingku kene lulus kok mbak, mek mboh nilaine piro. Tapi lek misale tibae aku sing gak lulus, aku ojok mbok tinggal yo mbak Ran. Tolong aku kancanono".

Dari jam 8 udah doaaaaa terus sambil dikit-dikit mbrebes. Tapi karena doanya ini di kasur jadi ada fase ketidurannya (geblek banget emang). Melek-melek udah jam 10. Lanjut novena lagi. Gitu terus sampe kira-kira jam setengah 12 an Hega mulai manggil-manggil di line. Aku sengaja gak buka karena tak pikir paling isinya Hega curhat deg-deg an juga kaya aku, takut juga kaya aku. Alhasil aku biarin sampe jam 23.50 akhirnya Hega nelpon,
"Mbak kene lulus mbak"
"Lho he kok wes ngerti, sing genah mbak"
"Wes onok pengumumane, wes metu. Jenenge kene onok"
"Mbak cek en maneh, iku pengumumane onok telu pasti. CBT, OSCE mbek full. Awakmu ndelok sing OSCE tok paling mbak, soale CBT ku wingi gak isooook"
Ini ngomongnya udah sambil nangis, bayangin gimana rasanya diberitau kalo kamu lulus. Tapi ternyata cuma salah satu ujian aja, which is itu berarti konklusinya kamu gak lulus. Jadi kaya habis melambung tinggi, terus dijelungupno.
"Yo sek tak delok e, ngkok tak telpon maneh"
........................................................ (isilah dengan isak tangis)(lebay memang)(tapi serius kejadiannya begitu)(nangis-nangis sambil deg-deg an nunggu Hega nelpon lagi)
"Mbak temenan lulus"
"Serius kene lulus?"
"Iyo kene lulus kabeh, telo lulus kabeh mbak" (telo itu nama grup belajarku, fyi)
"Yaampun mbaaak"
"Wes kono ndang muduno, ngomongo mamamu"

Begitulah telpon tengah malem paling heboh banyak nangisnya tapi bahagia. Saat itu juga aku langsung turun kasur terus ke kamar mama ngomong kalo lulus, terus pelukan.

Puji Tuhan aku lulus oneshoot! Terimakasih ayah mama dedek dan seluruh keluarga besar yg sudah mendoakan. Terimakasih pacar yg walopun luarnya cuek dan macak cool tapi ternyata diam-diam ikut kepikiran juga. Terimakasih teman-teman yg sudah menemani belajar dan tentunya mendoakan. Big thanks to Hega Rahmantya teman makan-belajar-curhat-nangis yg membawa kabar bahagia sukacita.